Jati Diri

JATI DIRI

Mendengar atau membaca kata anak bangsa, kita terbawa pada asumsi dan persepsi sendiri bahwa mereka adalah anak-anak yang masih dibawah umur yang lucu, imut serta menggemaskan. Anak Bangsa dalam pengertian disini adalah anak-anak di negeri tercinta ini yang kelak pada waktunya akan menjadi punggawa dan penegak , serta sebagai pilar bangsa untuk bisa berbuat yang lebih baik. Hal ini tidaklah jauh berbeda dengan konsepsi apa yang dimaksud dengan generasi muda, hanya saja ada sedikit perbedaan pada tataran usia.. Anak-anak bangsa disini masih terindikasikan pada mereka yang masih membutuhkan pendidikan, bimbingan, motivasi dan pengarahan dari siapa saja yang lebih dewasa sehingga mampu membantu mereka untuk mencapai tahapan mature / kedewasaan.

Pada cluster ini banyak diantara mereka yang datang dari berbagai macam latarbelakang kehidupan keluarga dan strata social. Tulisan ini akan sedikit memberikan gambaran riil tentang siapa mereka, apa latarbelakangnya, apa harapannya serta masih banyak lagi tentang …tentang …. tentang … mereka.Yang jelas, anak-anak muda ini sangat membutuhkan perhatian, arahan, bimbingan dan reinforcement dari golongan dewasa. Kita tidak berbicara banyak tentang anak-anak yang datang dari kalangan keluarga mapan dan nyaman, yang perlu kita perhatikan dan pahami adalah mereka yang datang dengan latarbelakang permasalahan yang beragam, bisa masalah broken home, broken heart, orang tua tidak mampu, putus sekolah susah mencari kerjaan, atau bahkan ada sebagaian dari mereka yang dengan membawa persoalan yang rumit dan pelik yang belum waktunya mereka menyelesaikan sendiri. Namun disisi lain ada dari mereka yang memang benar-benar ingin dewasa, maju, serta mandiri dengan segala cara dan daya upaya mereka untuk mewujudkannya.

Gambaran Komunitas Anak Bangsa Tuban tidaklah jauh berbeda dengan permasalahan dan persoalan anak-anak lain di negeri ini. Berawal dari permasalahan keluarga, social, ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Inilah yang mengidentifikasikan siapakah mereka. Lain ladang lain belalang-lain lubuk lain ikannya, segala permasalahn pasti memiliki latarbelakang yang berbeda-beda, dapatlah kiranya dikatakan demikian siapakah sebenarnya anak-anak ini, bagaimana mereka harus mensikapi hakekat kehidupan, gaya hidup serta pandangan hidup. Pada pandangan mereka yang berbeda-beda ini, mereka sangat membutuhkan kepedulian, sentuhan, dorongan, bimbingan, serta bantuan dari kalangan yang lebih dewasa, lebih mapan dan yang penting peduli terhadap permasalahan anak-anak negeri ini.

Apa yang menjadi harapan dari mereka? Hal ini sangat umum dan sering dipertanyakan dari segala golongan, masyarakat, akademisi, dan bahkan sebagian dari penyelenggara negara yang seharusnya mereka menjadi ujung tombak dari penyelenggaraan pemerintahan. Anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Anak Bangsa Tuban terbagi dalam beberapa cluster, yang pertama, mereka yang berusia wajib belajar dengan usia rata-rata 15 sampai dengan 19 tahun. Yang kedua, mereka yang sudah berada pada level usia masa-masa kuliah yang mana banyak diantara mereka yang masih menempuh pendidikannya diperguruan tinggi dengan berbagai macam disiplin ilmu. Selanjutnya, cluster dimana mereka yang sudah tamat sekolah ataupun kuliah atau bahkan yang drop out yang notabene pusing tujuh keliling mencari pekerjaan ataupun yang merintis suatu usaha, sangat perlu sekali mendapatkan perhatian dorongan bimbingan serta bantuan dari yang lebih mapan.

Mengapa selama sekian puluh tahun merdeka permasalahan ini tidak kunjung lebih baik? Pendidikan, pekerjaan, kenakalan remaja, dan lain sebagainya masih menjadi ikon persoaalan rumit di negeri ini. Ini bagaikan lelucon yang tak pantas ditertawakan, hidup di negeri yang kaya namun rakyat masih melarat, hidup dinegeri yang kaya rakyat masih bodoh, hidup dinegeri yang kaya tapi pendidikan masih mahal, baaaah, kita bukan hidup di negeri 1001 malam, ini realita, nyata…nyata…dan nyata-nyata banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa.

         Kita harus bisa mengembalikan keadaan ini seperti halnya harapan dari preambule UUD 1945, …melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa …. Ada masalah-masalah besar yang belum terselesaikan oleh segenap bangsa ini sendiri, korupsi, gaya hidup masyarakat yang konsumtif, penegakkan hukum,  mentalitas aparatur negara, dan masih segudang masalah yang silih berganti serta menumpuk. Kita ambil satu poin korupsi, tahukah anda apa saja efek-efek dari korupsi? Korupsi bisa membuat jutaan orang mati, jutaan anak bodoh, jutaan rakyat melarat, bahkan bencana alam dan bencana kemanusiaan bisa terjadi. Kita berdoa semoga Tuhan tidak lagi menambah quota dinerakaNya untuk orang-orang dari negeri ini.

         Dengan demikian tegakah kita kepada anak cucu dan anak-anak bangsa ini? Hidup susah, sekolah susah, cari pekerjaan lebih susah lagi. Apa hanya cukup kita wariskan angan-angan dan harapan? Ibarat makan steak dan spagetti tiap hari namun hanya mimpi… Ini akan terlihat hebat kalau hidup di negeri dongeng sebagai pengantar tidur anak-anak.

         Pada tahapan inti, bagaimana cara dan daya upaya untuk mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan dan harapan dari anak-anak negeri ini? Peran dan peranan kita, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai penyelenggara negara sangat vital demi terwujudnya cita-cita mereka dalam mencapai perubahan, kemapanan, kenyamanan dan ketentraman dikemudian hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s